BANGKALAN – Tiap tahun, saban 2 Mei, diperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Waktu terus berganti. Namun ada permasalahan di dunia pendidikan yang seolah tidak lekang oleh waktu. Di antaranya, fasilitas pendidikan yang tidak merata.

Infrastruktur pendidikan di Bangkalan memerlukan banyak perbaikan. Ruang kelas yang mengalami kerusakan sedang hingga berat mencapai ribuan.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan, terdapat 192 ruang kelas SMP yang rusak berat, 135 rusak sedang, dan 680 rusak ringan. Untuk SD, 1.862 ruang kelas mengalami rusak berat dan sedang.

Banyaknya ruang kelas rusak tidak diimbangi dengan tersedianya anggaran perbaikan dari pemerintah. Baik pemerintah pusat maupun daerah. Tahun ini anggaran rehabilitasi ruang kelas SMP hanya Rp 2.876.200.000. Itu untuk perbaikan 104 ruang kelas yang tersebar di 34 sekolah.

Untuk SD, tahun ini disediakan dana Rp 13.144.862.000. Itu untuk rehabilitasi dan penambahan ruang kelas baru (RKB). Sasarannya, 46 sekolah rehabilitasi dan 10 sekolah RKB.

Sekretaris Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika menyampaikan, ruang kelas rusak belum bisa diperbaiki secara menyeluruh karena anggaran tidak memungkinkan. ”Setiap tahun dilakukan perbaikan bertahap,” katanya Selasa (1/5).

”Dilihat sekolah mana yang sangat mendesak untuk diperbaiki. Jadi menyesuaikan dengan anggaran,” imbuh Bambang.

Anggaran yang dibutuhkan untuk memperbaiki seluruh ruang kelas rusak Rp 139.650.000.000. Estimasinya, setiap ruang kelas dijatah anggaran perbaikan Rp 75 juta.

Sementara untuk RKB membutuhkan biaya Rp 69.300.000.000. Biaya tersebut jika per RKB dianggarkan Rp 175 juta. Itu hanya untuk SD.

Untuk SMP, biaya yang dibutuhkan guna memperbaiki seluruh ruang kelas rusak Rp 205.125.000.000. Pemerintah belum memberikan kebutuhan anggaran itu. Baik anggaran yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) maupun dari APBD.

”Harapannya, pemerintah pusat ada dukungan anggaran yang memadai melalui DAK. Sehingga semua ruang kelas ada perbaikan,” ujar Bambang.

Tahun ini, perbaikan ruang kelas SMP mulai direalisasikan. Anggaran yang terserap untuk perbaikan Rp 1.075.280.000. Untuk SD, perbaikan belum terealisasi. ”SD belum dikerjakan. Sekarang ini masih tahap penetapan sekolah yang akan diperbaiki,” jelasnya.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura, di Kecamatan Blega terdapat 193 ruang kelas SD yang rusak, di Konang 180 ruang kelas, dan di Galis 160 ruang kelas. Di Kecamatan Sepulu terdapat 137 ruang kelas rusak dan di Kokop 133 ruang kelas.

Untuk SMP, di Kecamatan Arosbaya terdapat 36 ruang kelas rusak sedang dan berat dan di Kecamatan Bangkalan 40 ruang kelas. Kemudian, di Modung 25 ruang kelas rusak, di Konang 28 kelas, dan Kokop 26 ruang kelas yang rusak.

Kebutuhan penambahan RKB jenjang SD di antaranya, 57 di Kecamatan Kokop. Kemudian di Kecamatan Geger membutuhkan 47 RKB, Tanah Merah 49 RKB, Konang 46 RKB, dan di Galis membutuhkan 34 RKB.

Bambang menyatakan, jika anggaran rehabilitasi dan RKB stagnan setiap tahun, butuh waktu sekitar 20 tahun untuk bisa memperbaiki seluruh ruang kelas yang rusak. Itu untuk jenjang SD. Sementara untuk SMP diprediksi perbaikan menyeluruh baru tuntas pada 2022.

”Asal tidak ada ruang kelas lagi yang rusak. Tapi, setiap tahun kadang ada yang mengalami kerusakan. Jadi tidak bisa menuntaskan keseluruhan,” paparnya.

Sebagai contoh, 3 Januari 2018 satu ruang kelas SDN Serabi Timur 2 Modung ambruk. Kemudian Kamis (12/4) satu atap ruang kelas roboh.

Setelah itu, satu ruang kelas lainnya yang merupakan satu bangunan ikut ambruk. Bangunan tersebut terdiri dari ruang kelas 1, 2, dan 3. Belum ada perbaikan sampai saat ini.

Sebanyak 81 siswa SDN Serabi Timur 2 mengikuti KBM di perpustakaan. Perinciannya, kelas 1 terdiri dari 32 siswa dan kelas 2 terdapat 22 peserta didik. Sementara siswa kelas 3 sebanyak 27 anak.

Selain itu, 56 siswa masih bisa mengikuti KBM di kelas masing-masing. Kelas 4 terdapat 18 siswa dan 23 murid di kelas 5. Kemudian kelas 6 ada 15 siswa.

Kepala SDN Serabi Timur 2 Modung Jumawan mengaku khawatir sisa bangunan yang masih berdiri akan ikut roboh. Sebab, kondisi bangunan sudah tua dan rapuh. ”KBM pakai perpustakaan,” ungkapnya. (bad/hud/han/bas)

 

By |2018-11-26T07:03:22+00:00May 2nd, 2018|Uncategorized|

Leave A Comment